|
Saya masih berumur 7 tahun. Bagi saya waktu itu, polisi adalah sosok yang ganteng dan bijaksana. Apalagi melihat salah satu sinetron pada waktu itu yang menampilkan peran seorang polisi dengan wajah ganteng, tubuh tegak, dan (ganteng). Tapi sosok itu kemudian pupus setelah seorang polisi dengan kumis jarang-jarang mengetuk pintu mobil saya sambil tersenyum menampilkan wajah buruk rupa dan gigi kuning.
Saya sedang liburan sekolah dan memutuskan untuk berkunjung ke ibu kota Indonesia, Jakarta. Itu merupakan kali pertama (sepanjang saya mengingat, sebesar memori saya) saya mengunjungi Jakarta. Layaknya manusia-manusia dari kota kampung pada umumnya, saya terkagum-kagum dengan kemegahan bangunan-bangunan di Jakarta.
Tak berapa lama keluarga dan saya tiba di Jakarta, seorang polisi menunjuk mobil kami untuk minggir ke tepian. Ayah saya langsung meng-aduh dengan wajah kecewa bercampur kesal. Kemudian datanglah seorang polisi (dengan wajah buruk rupa dan gigi kuning tadi) mengetuk kaca pintu mobil kami. Ayah saya langsung membuka jendela. Percakapan pun dimulai.
Ayah: Wah, maaf, Pak. Saya menerabas tanda perboden (forbidden, kalau inggrisnya sih) ya?
Polisi: Iya, Pak. Kebetulan tadi di depan juga sudah dipasang tanda perbodennya, Pak. Bapak dari mana ya kalau saya boleh tau?
Ayah: Wah saya dari kota ********, Pak. Lagi liburan ke Jakarta jadi kurang hapal jalanan di sini.
Polisi: Oh iya pantas, Pak. Boleh saya lihat SIM dan STNKnya,Pak?
(Ayah saya menunjukkan semua yang diminta oleh polisi tersebut sambil terus bermaaf-ria.)
Polisi: Semua suratnya lengkap yah,Pak. Jadi bagaimana, Pak? Mau diselesaikan di kantor atau di sini saja?
Ayah: Wah, disini saja ya,Pak. Saya susah euy ke kantornya, maklum pendatang.
Polisi: Jadi slip hijau ya,Pak? Boleh lah kalau begitu. Lima puluh ribu saja,Pak.
Ayah: Bukan dua puluh ribu, Pak? Kan baru dikit trabas perbodennya.
Polisi: Ketentuannya lima puluh ribu, Pak. Biar bisa dibagi rata sama kawan-kawan saya yang di belakang.
Ayah: Tiga puluh ribu ya,Pak?
Polisi: Maaf,Pak. Kalau tidak mau lima puluh ribu, saya mau ambil slip biru ke dalam sebentar.
Ayah: Oh, nggak usah,Pak. Ini, Pak. Kita damai saja. Terima kasih ya,Pak.
Ayah saya kemudian menyelipkan selembar uang ke tangan polisi itu. Kemudian ia memberikan hormat dan kami pun berlalu pergi dari sana. Saat itu saya belum memahami sama sekali maksud pembicaraan tersebut. Namun dalam perjalanan saya sempat bertanya kepada ibu saya dan ibu secara singkat menjelaskan bahwa tadi kami baru saja menyogok polisi!
Kenyataan pahitnya adalah pertama, ayah saya menyogok polisi dan kedua, polisi itu mau saja disogok. Kalau sudah begini bingung juga siapa yang salah, yang menyogok apa yang disogok dan menerima dengan senang hati?
Tapi kalau memang semua orang diberi kemudahan (apalagi bagi mereka yang mampu), maka siapa yang akan menolak? Tentu saja semua memilih kemudahan tersebut kan? Contohnya, kalau diciptakanlah sebuah lampu dan diberi secara gratis, siapa juga yang akan dengan senang hati memilih menggunakan obor tiap malamnya ditemani ketakutan akan resiko kebakaran? Toh, rata-rata orang pasti akan memilih untuk memanfaatkan kemudahan yang diberikan kan?
Lalu pertanyaannya, kenapa kemudahan semacam ini disediakan, terlebih oleh seorang polisi selaku penegak hukum? Kalau begini namanya, siapa yang akan menghukum kalau pelaku hukumnya saja sebenarnya layak untuk dihukum? Mana kebijaksanaan untuk menciptakan kesejahteraan di tengah-tengah masyarakat Indonesia? Polisi kok sembrono... Sekarep jidatmu tok... Sek rakyat sing pegel ngebantoni kantong-kantonge kalian ikuh.. Saitik saitik ditilang sek minta duit tok.. CKCK
Saya sedang liburan sekolah dan memutuskan untuk berkunjung ke ibu kota Indonesia, Jakarta. Itu merupakan kali pertama (sepanjang saya mengingat, sebesar memori saya) saya mengunjungi Jakarta. Layaknya manusia-manusia dari kota kampung pada umumnya, saya terkagum-kagum dengan kemegahan bangunan-bangunan di Jakarta.
Tak berapa lama keluarga dan saya tiba di Jakarta, seorang polisi menunjuk mobil kami untuk minggir ke tepian. Ayah saya langsung meng-aduh dengan wajah kecewa bercampur kesal. Kemudian datanglah seorang polisi (dengan wajah buruk rupa dan gigi kuning tadi) mengetuk kaca pintu mobil kami. Ayah saya langsung membuka jendela. Percakapan pun dimulai.
Ayah: Wah, maaf, Pak. Saya menerabas tanda perboden (forbidden, kalau inggrisnya sih) ya?
Polisi: Iya, Pak. Kebetulan tadi di depan juga sudah dipasang tanda perbodennya, Pak. Bapak dari mana ya kalau saya boleh tau?
Ayah: Wah saya dari kota ********, Pak. Lagi liburan ke Jakarta jadi kurang hapal jalanan di sini.
Polisi: Oh iya pantas, Pak. Boleh saya lihat SIM dan STNKnya,Pak?
(Ayah saya menunjukkan semua yang diminta oleh polisi tersebut sambil terus bermaaf-ria.)
Polisi: Semua suratnya lengkap yah,Pak. Jadi bagaimana, Pak? Mau diselesaikan di kantor atau di sini saja?
Ayah: Wah, disini saja ya,Pak. Saya susah euy ke kantornya, maklum pendatang.
Polisi: Jadi slip hijau ya,Pak? Boleh lah kalau begitu. Lima puluh ribu saja,Pak.
Ayah: Bukan dua puluh ribu, Pak? Kan baru dikit trabas perbodennya.
Polisi: Ketentuannya lima puluh ribu, Pak. Biar bisa dibagi rata sama kawan-kawan saya yang di belakang.
Ayah: Tiga puluh ribu ya,Pak?
Polisi: Maaf,Pak. Kalau tidak mau lima puluh ribu, saya mau ambil slip biru ke dalam sebentar.
Ayah: Oh, nggak usah,Pak. Ini, Pak. Kita damai saja. Terima kasih ya,Pak.
Ayah saya kemudian menyelipkan selembar uang ke tangan polisi itu. Kemudian ia memberikan hormat dan kami pun berlalu pergi dari sana. Saat itu saya belum memahami sama sekali maksud pembicaraan tersebut. Namun dalam perjalanan saya sempat bertanya kepada ibu saya dan ibu secara singkat menjelaskan bahwa tadi kami baru saja menyogok polisi!
Kenyataan pahitnya adalah pertama, ayah saya menyogok polisi dan kedua, polisi itu mau saja disogok. Kalau sudah begini bingung juga siapa yang salah, yang menyogok apa yang disogok dan menerima dengan senang hati?
Tapi kalau memang semua orang diberi kemudahan (apalagi bagi mereka yang mampu), maka siapa yang akan menolak? Tentu saja semua memilih kemudahan tersebut kan? Contohnya, kalau diciptakanlah sebuah lampu dan diberi secara gratis, siapa juga yang akan dengan senang hati memilih menggunakan obor tiap malamnya ditemani ketakutan akan resiko kebakaran? Toh, rata-rata orang pasti akan memilih untuk memanfaatkan kemudahan yang diberikan kan?
Lalu pertanyaannya, kenapa kemudahan semacam ini disediakan, terlebih oleh seorang polisi selaku penegak hukum? Kalau begini namanya, siapa yang akan menghukum kalau pelaku hukumnya saja sebenarnya layak untuk dihukum? Mana kebijaksanaan untuk menciptakan kesejahteraan di tengah-tengah masyarakat Indonesia? Polisi kok sembrono... Sekarep jidatmu tok... Sek rakyat sing pegel ngebantoni kantong-kantonge kalian ikuh.. Saitik saitik ditilang sek minta duit tok.. CKCK