Ranking 1

Kisah berbeda tentang ironi berbeda.

Ada satu kalimat yang selalu mengingatkan saya terhadap target saya. Kalimat dari ibu saya, "Orang sukses tumbuh dari orang-orang cerdas". Saat saya SD dulu, saya berulang kali menjadi ketua kelas bukan karena kemahiran dan kepemimpinan saya, melainkan lebih kepada kepandaian saya di kelas. Saya pun berulang kali mengikuti lomba-lomba dan olimpiade-olimpiade, walaupun tidak selalu menang. Di antara teman-teman seangkatan saya, meskipun bukan yang paling pandai namun saya terbilang dua atau tiga besar.

Saat itu saya sangat bangga dengan pencapaian saya. Saya sangat yakin dengan kemampuan saya sehingga saya menyatakan yakin untuk tidak mengikuti les maupun kursus apa pun. Nilai saya pun terbilang paling tinggi di kelas saya (yang lebih tinggi ada -di kelas lain). Sebutlah seorang cowok bernama CURANG. Si curang ini memang cukup pintar. Bahkan sejak SD acap kali saya dikirim ke olimpiade bersama dengan dia. Namun secara pribadi maupun teman-teman saya melihat, dia tidak akan mampu mengungguli saya.

Hingga saat caturwulan 1 (maklum jadul) berakhir dan kami memperoleh rapor kami. Betapa kagetnya saya melihat angka dua di kolom ranking. Bukan karena saya tidak pernah memperoleh angka tersebut sebelumnya, melainkan karena saya yakin saya mampu memperoleh ranking 1, bukan 2. Saya pun pulang dengan kekecewaan dan keputusasaan tingkat dewa.

Caturwulan kedua dimulai, saya mencari tahu tentang siapa yang mendapatkah peringkat idaman tersebut. Kagetlah saya mengetahui bahwa yang mendapat gelar itu justru si curang itu. Padahal saya perhatikan nilainya tidak melebihi saya sama sekali. Maka sepanjang catur wulan dua saya terus memperhatikan dia dan perkembangan nilainya. Tidak buruk.

Sampai suatu ketika saya terlibat perbincangan dengan kawan-kawan saya. Muncullah sebuah topik tentang si curang. Ya, disanalah saya mengetahui darimana si curang mendapatkan nilai-nilai bagus. Pertama, dia mengikuti setumpuk kursus dengan jadwal padat. Kedua, dia merekrut beberapa guru untuk menjadi pengajar privatnya di rumahnya. Dan paling hebatnya, selain dengan bayaran tinggi jurus ketiganya adalah, dia merupakan murid yang aktif memberikan komisi dan hadiah-hadiah kepada beberapa guru. Dengan ketiga caranya itu ia memperoleh bekal cukup untuk menjadi anak emas dan manipulasi nilai.

Meskipun ya, mungkin saja itu hanya ulah dari orangtua si curang yang terobsesi agar anaknya menjadi ranking 1. Namun tidak, jika ternyata anak itu pun turut membanggakan prestasi tidak halalnya. Ironis.

Saya menceritakan hal ini kepada kedua orang tua saya. Dengan tekad bulat, mereka pun mencari tahu kebenarannya dengan cara mengikuti gerak gerik si curang sepulang sekolah. Dan wallaaa~ selama beberapa hari kami melewati rumahnya, kami selalu melihat motor atau mobil butut seorang guru sekolah saya mejeng di halaman rumahnya yang luas. Bukan hanya itu, saya pun sempat melihat 2-3 kali saat guru itu keluar dari rumah si curang sambil membawa 'sesuatu' (yang entah apa, namun tidak cukup logis untuk disebut barang bawaan si guru).

Sejak saat itulah ambisi saya memperoleh peringkat 1 atau menjadi orang pintar pupus. Saya seolah-olah dibayangi oleh orang-orang manipulatif, dan timbul sebuah kepercayaan dalam diri saya bahwa betapa pun kerja keras saya memperoleh peringkat 1, gelar tersebut tidak akan pernah saya dapatkan selama ada orang-orang semacam ini.

Mungkin bukan hanya saya yang merasakan hal serupa. Mungkin banyak di luar sana yang merasakan hal yang sama. Tetapi apakah memang tak bisa diubah keadaan semacam ini? Apakah pendidikan hanya terpuaskan oleh harta dan nafsu pengajar? Apakah pendidikan seperti ini yang akan membawa Indonesia menjadi negara hebat? Apakah pendidikan semacam ini adalah satu-satunya potret hitam pendidikan Indonesia? Tidak. Lalu bagaimana bapak presiden akan menghadapi ini?

Saya hanya satu di antara pelajar Indonesia yang ingin berprestasi dan gagal. Mungkin banyak di luar sana yang bahkan tak sempat merasakan pendidikan. Apakah pendidikan terlalu mahal di Indonesia? Bagaimana mau gratis, kalau bayar sesuai dengan tagihan ternyata pun tak bisa mengatasi perekonomian si guru dan masih dicari kesempatan untuk menambah pundi-pundi emasnya?

Tilang part I

Saya masih berumur 7 tahun. Bagi saya waktu itu, polisi adalah sosok yang ganteng dan bijaksana. Apalagi melihat salah satu sinetron pada waktu itu yang menampilkan peran seorang polisi dengan wajah ganteng, tubuh tegak, dan (ganteng). Tapi sosok itu kemudian pupus setelah seorang polisi dengan kumis jarang-jarang mengetuk pintu mobil saya sambil tersenyum menampilkan wajah buruk rupa dan gigi kuning.

Saya sedang liburan sekolah dan memutuskan untuk berkunjung ke ibu kota Indonesia, Jakarta. Itu merupakan kali pertama (sepanjang saya mengingat, sebesar memori saya) saya mengunjungi Jakarta. Layaknya manusia-manusia dari kota kampung pada umumnya, saya terkagum-kagum dengan kemegahan bangunan-bangunan di Jakarta.

Tak berapa lama keluarga dan saya tiba di Jakarta, seorang polisi menunjuk mobil kami untuk minggir ke tepian. Ayah saya langsung meng-aduh dengan wajah kecewa bercampur kesal. Kemudian datanglah seorang polisi (dengan wajah buruk rupa dan gigi kuning tadi) mengetuk kaca pintu mobil kami. Ayah saya langsung membuka jendela. Percakapan pun dimulai.

Ayah: Wah, maaf, Pak. Saya menerabas tanda perboden (forbidden, kalau inggrisnya sih) ya?

Polisi: Iya, Pak. Kebetulan tadi di depan juga sudah dipasang tanda perbodennya, Pak. Bapak dari mana ya kalau saya boleh tau?

Ayah: Wah saya dari kota ********, Pak. Lagi liburan ke Jakarta jadi kurang hapal jalanan di sini.

Polisi: Oh iya pantas, Pak. Boleh saya lihat SIM dan STNKnya,Pak?

(Ayah saya menunjukkan semua yang diminta oleh polisi tersebut sambil terus bermaaf-ria.)

Polisi: Semua suratnya lengkap yah,Pak. Jadi bagaimana, Pak? Mau diselesaikan di kantor atau di sini saja?

Ayah: Wah, disini saja ya,Pak. Saya susah euy ke kantornya, maklum pendatang.

Polisi: Jadi slip hijau ya,Pak? Boleh lah kalau begitu. Lima puluh ribu saja,Pak.

Ayah: Bukan dua puluh ribu, Pak? Kan baru dikit trabas perbodennya.

Polisi: Ketentuannya lima puluh ribu, Pak. Biar bisa dibagi rata sama kawan-kawan saya yang di belakang.

Ayah: Tiga puluh ribu ya,Pak?

Polisi: Maaf,Pak. Kalau tidak mau lima puluh ribu, saya mau ambil slip biru ke dalam sebentar.

Ayah: Oh, nggak usah,Pak. Ini, Pak. Kita damai saja. Terima kasih ya,Pak.

Ayah saya kemudian menyelipkan selembar uang ke tangan polisi itu. Kemudian ia memberikan hormat dan kami pun berlalu pergi dari sana. Saat itu saya belum memahami sama sekali maksud pembicaraan tersebut. Namun dalam perjalanan saya sempat bertanya kepada ibu saya dan ibu secara singkat menjelaskan bahwa tadi kami baru saja menyogok polisi!

Kenyataan pahitnya adalah pertama, ayah saya menyogok polisi dan kedua, polisi itu mau saja disogok. Kalau sudah begini bingung juga siapa yang salah, yang menyogok apa yang disogok dan menerima dengan senang hati?

Tapi kalau memang semua orang diberi kemudahan (apalagi bagi mereka yang mampu), maka siapa yang akan menolak? Tentu saja semua memilih kemudahan tersebut kan? Contohnya, kalau diciptakanlah sebuah lampu dan diberi secara gratis, siapa juga yang akan dengan senang hati memilih menggunakan obor tiap malamnya ditemani ketakutan akan resiko kebakaran? Toh, rata-rata orang pasti akan memilih untuk memanfaatkan kemudahan yang diberikan kan?

Lalu pertanyaannya, kenapa kemudahan semacam ini disediakan, terlebih oleh seorang polisi selaku penegak hukum? Kalau begini namanya, siapa yang akan menghukum kalau pelaku hukumnya saja sebenarnya layak untuk dihukum? Mana kebijaksanaan untuk menciptakan kesejahteraan di tengah-tengah masyarakat Indonesia? Polisi kok sembrono... Sekarep jidatmu tok... Sek rakyat sing pegel ngebantoni kantong-kantonge kalian ikuh.. Saitik saitik ditilang sek minta duit tok.. CKCK